Showing posts with label kedelai lokal Non GMO. Show all posts
Showing posts with label kedelai lokal Non GMO. Show all posts

Palawija, Kedelai Lokal dan Tempe Usar Ragi Alam Daun Tutup

Palawija secara harfiah berarti tanaman kedua. Istilah palawija digunakan untuk menyebut jenis tanaman hasil panen kedua di samping padi. Pada sistem budidya LEISA (pertanian berkelanjutan), palawija merupakan salah satu komponen untuk melakukan rotasi tanaman. Petani melakukan rotasi tanaman dengan menanam padi yang diselingi palawija untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit tanaman. Rotasi tanaman juga bermanfaat bagi pemulihan kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas hasil pertanian setempat.

Palawija Martani dihasilkan oleh petani produsen Beras Martani dan pada lahan garapan yang sama. Secara bergantian, petani menanam kacang tanah, kedelai, kacang merah, dan kacang hijau sebagai tanaman kedua setelah padi.



Siapa yg tidak kenal tempe, makanan rakyat dari Sabang sampai Meurake. Belum pernah juga sih ke Sabang atau ke Meurake, konon sih tempe merata dimana-mana. Cara buatnya relatif mudah. Udara tropis mendukung tumbuhnya kapang dengan baik. Pembusukan istilah anak-anak kuliahan yg belajr soal kapang, bukan fermentasi, cocok dengan udara tropis.




Jenis kedelai lokal yg banyak ditanam adalah Wilis, Galunggung dan Anjasmoro. Keunggulan kedelai lokal dibanding kedelai impor adalah asal benih yg Non-GMO (Genetically Modified Organisms), bukan hasil rekayasa genetik yg potensial berbahaya untuk kesehatan manusia, masyarakat sosial dan alam.

Ketergantungan impor kedelai dari Amerika sangat tinggi, dari 2,5 juta ton kebutuhan kedelai dalam negri, produksi petani kita hanya 700.000/ton/tahun menurut catatan Kementrian Pertanian. Di sisi lain harga kedelai di tingkat petani sangat rendah, pemerintah menetapkan HPP (Harga Pembelian Pemerintah) adalah 7.000/kg. Sampai ke tangan konsumen, harga kedelai lokal mencapai 15.000/kg. Sedangkan harga kedelai impor di pasaran bisa mencapai 7500-8000/kg.

Martani memproduksi tempe kedelai lokal dengan ragi alam dari Daun Tutup (nama lokal daerah Prambanan untuk Daun Waru (Hibiscus tiliaceus)). Di daerah lain, ragi alam bisa dibuat dari Daun Jati (Tectona grandis), jenis daun yang permukaan daun bagian bawahnya ditumbuhi jamur berbentuk benang-benang berwarna putih. Istilah usar dipakai karena jamur Rhizopus sp. yg berfungsi sebagai starter yg menempel di daun diusar-usar (digosok-gosok) ke kedelai yg sudah direndam dan direbus dibuang kulitnya.

Anda bisa membuat ragi tempe alam sendiri di rumah. Link berikut dapat membantu: https://adenalfi.blogspot.co.id/2016/10/cara-mudah-membuat-ragi-tempe-sendiri.html. Kami juga menyediakan kedelai lokal untuk anda memproduksi tempe sendiri.

Pangan Lokal Pangan Sehat

Negeri ini kaya dengan aneka rasa dari berbagai sayuran segar dan pangan olahannya. Pangan lokal pangan sehat, itulah yg menjadi semangat kami menemukan-kembali kenikmatan dan kesegaran pangan lokal. Mengolah rasa membangun jiwa untuk Indonesia Raya.



Tempe bungkus daun, diikat dalam satu biting. Praktis khan. Biasanya di pasar tradisional di daerah Majenang, Jawa Tengah banyak yg jual. Atau ada juga ibu-ibu pedagang sayur keliling desa yg membawa jenis tempe begini.

Kalau bisa pastikan tempe yg anda konsumsi diputa dari kedelai lokal bebas GMO (Genetic Modified Organism), ditanam petani lokal. Bahan dasar yg sehat tentunya memberi kesegaran terhadap makanan yg akan kita hidangkan. 




Tempe kedelai lokal lebih manis komentar beberapa konsumen. Kebanyakan pabrik tempe menggunakan kedelai impor sebagai bahan bakunya. Artisan dan beberapa orang saja yg memang sengaja memproduksi tempe kedelai lokal.


Semanggi namanya. Bentuk daunnya yg cukup unik menginpirasi sebuah perusahaan printer isi ulang menjadikan sebagai logo produknya. Semanggi banyak tumbuh melayang di perairan sawah. Alangkah sehatnya apabila semanggi yg anda konsumsi diambil dari sawah yg tidak disemprot pestisida kimia, bebas residu berbahaya.













Semanggi biasa dimasak pecel atau urab. Di daerah Majenang, pecel dan urab semanggi bisa didapatkan setiap pagi di si Mbah di pasar tradisional.

Genjer diikat tali pelepah daun pisang.






Cara pengolahan jajanan lokal relatif sederhana. Menggunakan cowet dan mutu untuk menghaluskan aneka bumbu. Uniknya lagi, ada banyak rempah terlibat dalam satu jenis masakan. Gak salah sih negri ini kaya rempah, dan itu pula yg membuat kaum Europa datang menjajah puluhan tahun silam.



Pastikan cobek dan mutu yg anda pakai terbuat dari batu asli, bukan semen cor-coran. Cerita tentang cobek semen kami dapat dari Wiji, salah satu staf Martani. Ayahnya Wiji adalah pembuat cobek di Desa Bayat, Klaten. Kami menaruh produk-produk cobek ayahnya Wiji di sosial media Martani, sampai seorang pelanggan kami mengeluhkan cobek yg dia miliki yg luntur menjadi butiran-butiran berwarna abu. Penelusuran googling membawa kami ke sebuah daerah di kawasan Cirebon, yg dengan bangga mempromosikan cobek semen buatan daerah tersebut. Semoga dari dinas dan instansi pemerintah terkait segera merespon kondisi ini.

Dapur terbuka saat hajatan.